semangat laskar

nama: muhammad faisal nurhuda

nim: D14100110

Saya ingin menceritakan pengalaman yang mungkin bisa disebut sebagai cerita inspirasi. Ini pengalaman pertama saya ketika sampai di IPB, saat acara registrasi ulang mahasiswa baru angkatan 47. Ketika berjalan menuju grawida bersama orang tua saya, saya bertemu dengan  seorang anak laki-laki yang berumuran sama dengan saya,memakai kemeja putih,berkulit hitam dan berwajah khas orang dari daerah Indonesia timur. Seketika dia menyapa “Selamt pagi Pak, mau registrasi? Boleh saya ikut?”. Orang tua saya pun mengiyakan dan saat itu saya langsung berkenalan dengannya.

Ternyata namanya Andi dan dia berasal dari Kupang, dia mengambil jurusan teknik mesin dan biosistem. Saya agak sedikit kaget ketika dia menyebutkan daerah asalnya karena jauh, maklum selama sekolah di Jakarta teman-teman ku paling jauh bertempat  tinggal di Bekasi yang biarpun termasuk provinsi Jawa Barat, tetapi dapat di tempuh dalam waktu 45 menit. Andi berperawakan sederhana menurut saya, sedikit berbeda dengan calon mahasiswa lain yang saya lihat. Setelah beberapa lama bercerita tentang masing-masing, dia menanyakan biaya masuk kuliah saya di IPB. Saya dipesan oleh orang tua agar tidak menyebutkan nominal angka yang sebenarnya, agar tidak sombong karena  jumlahnya yang  lumayan besar. Lalu ia menyebutkan biaya yang harus dibayarnya, ketika saya hitung, diperkirakan penghasilan orangtuanya sekitar dua juta rupiah, dan masih banyak lagi dipotong untuk tanggunan lainnya.

Dia datang ke IPB hanya seorang diri, bermodal alamat kampus IPB dan alamat kost kenalannya yang berasal dari Kupang untuk menaruh barang bawaannya sebelum masuk asrama. Ketika registrasi ulang, oranag tuanya tidak bisa hadir karena keterbatasan biaya perjalanan ke Bogor. Dari cerita yang disampaikannya, terlihat bahwa dia bukan hanya kebetulan masuk ke IPB, tapi karena usaha kerasnya. Sebelum ikut snmptn, dia sempat ikut seleksi IPB melalui BUD (beasiswa utusan daerah) namun gagal.

Setelah hampir sebulan mengamati mahasiswa baru yang lain dan saling berkenalan, saya sadar ternyata kali ini saingan makin berat. Tidak menyerah oleh keterbatasan ekonomi, tidak menyerah karena jarak yang jauh dari rumah dan tidak menyerah meski punya keterbatasan fisik. Mereka punya satu mimpi yang sama,bisa membanggakan orang tua dan menjadi sarjana di Institut pertanian Bogor.

Comments